Kamis, 14 Februari 2013

Clash I di wilayah Madura (I)


Tank-tank Belanda mendarat di Pulau Madura pada clash I

Dua  tahun semenjak meletusnya pertempuran sengit di Surabaya 10 November 1945 , pihak penjajah akan kembali menguasai bumi Madura.  Diawali dengan blockade politik ekonomi, belanda berusah menutup litas perdagangan dari Pulau Madura ke Pulau Jawa ataupun sebaliknya. Pada tanggal 5 oktober 1946 pemerintah Madura mengirimkan delegasinya untuk mencari kebutuhan pokok sekaligus menyampaikan laporan tentang situasi yang ada di pulau Madura yang dimana pada pada saat itu menaiki kapal Kangean menuju Probolinggo, di tengah perjalanan nasib nahas menimpa para delegasi dari Madura tersebut, kapal Kangean terus ditembaki sehingga karam di periran selat Madura. Pada saat kejadian tersebut hanya dua orang penumpang yang selamat. Sehari setelah kejadian nahas tersebut, tepat tanggal 6 oktober 1946 Belanda mengadakan percobaan pendaratan laut melaui Kamal, Bangkalan dengan dikawal 8 pesawat pemburu. Pada saat yang sama pertahanan untuk daerah kamal, Bangkalan di pimpin langsung oleh Letnan R. Ramli. Mengetahui penadaratan pertama di Madura pasca kemerdekaan Letnan. R Ramli mencoba membunuh pasukan belanda yang ada di dalam tank-tank baja, mengetaui tindakan dari pejuang Madura tersebut pihak belanda terus menembaki Letnan. R Ramli sehingga gugur sebagai kusuma bangsa. Selain Letnan. R Ramli, yang gugur dalam medan pertempuran, adalah Lettu Abdulah dan Letnan Singosastro.  Peristiwa tersebut memberikan kesaan awal ke pihak Belanda bahwa semangat perjuangan untuk mempertahankan Negara Republic Indonesia masih berobar di bumi Madura.  

Clash I di wilayah Madura (II)


Mengetahui kejadian tersebut bahwa sebagian wilayah Madura telah dikuasai pihak Belanda, Komandan Resimen Letkol. R. Chandra Hassan segera membentuk Komandan pertahanan dan pertempuran (COPP) yang tak lain dimaksudkan untuk mengakomodir dan menginventarisir seluruh kesatuan dan badan-badan perjuangan rakyat yang masih tersisa seperti Hibullah, Sabilillah, Pesindo dsb untuk bergabung dengan angkatan bersenjata R.I

Clash I di wilayah Madura (III)


Disamping itu para gereliyawan yang selamat mengadakan pertahanan di desa kertagenna batas Pamekasan – Sumenep yang sebelumnya pertahanan bermarkas di Kadur, Pamekasan. Disisi lain Belanda juga membentuk markas pertahanan di Cen lecen tak jauh dari  markas para pejuang yang telah dibangun sebelumnya.  Untuk mencegah doorstoot dari pihak musuh ke wilayah Sumenep para pejuang R.I  juga membentuk markas pertahanan satu regu MB (mobile brigade) di daerah Guluk-Guluk di bawah pertahanan Komando Ajun Inspektur Polisi R. Abd. Kadir dan Barisan Sabillah dibawah pimpinan K. Abdullah Sajjad. Tak hanya membentuk pertahan di daerah yang strategis, Markas Resimen 35 Jokotole yang semula ada di daerah Batu Ampar di pindah ke daerah Karangtenga Ru Baru.
Pada Tanggal 8 Oktober 1947, Belanda yang ada di cen-lecen  mengadakan  serangan ke pertahan para pejuang di Guluk-guluk, di kala itu pasukan Belanda berhasil menduduki daerah Guluk-guluk dan Ganding sambil memperbaiki jembatan yang telah dibumi hanguskan  sebelumnya oleh pejuang-pejuang agar tidak bisa menyerang ke wilayah Sumenep.

Setelah pertempuran berjalan dua bulan lamanya, Komandan Resimen Letkol R. Chandra Hassan mengutus mayor  R. AbuJamal dan kapten Ahmad Hafiloeddin untuk pergi ke jogja yang menjadi pusat pemerintahan R.I kala itu guna meminta bala bantuan. Dua minggu sesudahnya tepat tanggal 20 oktober 1947.  Pagi hari , di atas angkasa kota Sumenep, pesawat udara Dakota 001 yang di kemudiakan oleh pilot  Bob Freeberg , Navigator dan pemegang komando oleh putra daerah Suemenep  Halim Perdanakusuma, jump master Opsir Muda Udara I Sukoco dan Opsir Muda Udara II Sujono meraung-raung dengan gagahnya Kemudian terbang merendah berputar-putar dan menjatuhkan pesan berupa tabung bambu yang diberi tanda merah putih sebagai isyarat bagi pasukan TRI yang melaksanakan pertahanan udara di Kota Sumenep. Selanjutnya penerjunan dimulai dengan menjatuhkan enam buah keranjang rotan berisi bahan-bahan logistik, persenjataan, amunisi, bahan sandang-pangan dan uang sebesar Rp. 5.000.000,-. Lalu disusul dengan terjunnya Mayor R. Abujamal dan Kapten R. Ach. Hafiludin dengan parasut yang juga diberi tanda bendera merah putih.

Pertahanan di Sumenep tak hanya ada diwilayah-wilayah strategis perkotaan dan pintu masuk menuju kota, namun juga dilakukan diwilayah sekitar peraian Sumenep tepatnya di Kalianget. Setelah Batalyon V Resimen 35, Kompi II yang dipimpin oleh Letnan Salamon kembali dari Kamal, ditempatkan di Pabrik Garam Kalianget, kala itu yang menjabat sebagai Kepala Pabrik adalah R. Andana Sasmito. Letnan Salamon ditugaskan untuk mengamankan Pabrik Garam yang merupakan Perusahaan yang sangat vital. Letnan A. Afandie sebagai Cie I dan merangkap sebagai Kepala Staf Cie, Kopral Abd. Mannan sebagai perlengkapan dan Sersan Mayor Moh. Saleh sebagai juru bayar/Keuangan.
Kesatuan Laskar Rakyat yang ada di Kalianget pada waktu itu adalah Cie Angkatan Laut RI dibawah pimpinan Sabidin, sedangkan Laskar Buruh Indonesia (LBI) dibawah Osman Polontalo Dan pemasangan trekbom dilakukan oleh Ganie dibawah pengawasan Kapten Sahur. Dan barisan Pesindo dipimpin oleh RP.Agil.

Clash I di wilayah Madura (IV)


Tiga hari lamanya tentara Belanda mengadakan serangan kejurusan timur (kota Sumenep) untuk mematahkan perlawanan para pejuang. Tentara Belanda mengarahkan semua kekuatannya dengan serangan udara selama dua hari tanpa henti-hentinya. Perjuangan para Pejuang yang melebar tanpa perhitungan yang matang tak mampu menahan terobosan para pasukan Belanda, walaupun segala upaya dilakukakn untuk membendung gerak maju tetapi tetap gagal. Akhirnya harus dilakukan gerak mundur sambil melawan seberapa mungkin dengan mengupayakan bantuan dari batalyon IV dari sektor Sumenep.

Ghaladak Rantai di Marengan

Ophallburgh / Jembatan Tarik / Ghaladak Rantai di Marengan. Kondisi dulu di tahun 1900an dan 2 tahun lalu di tahun 2011 

Pada peta dibawah, posisi jembatan ini ditandai dengan nomor 2.


Masjid Agung Sumenep dari Masa ke Masa


Masjid Agung Sumenep Tahun 1950


Masjid Agung Sumenep Tahun 1890